Keunikan Padang Kuku di Hutan Lambusango

Berdasarkan ekoregion dunia, hutan di sulawesi diklasifikasikan oleh WWF dalam kategori hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan. Menurut Whitten (2005), hutan hujan dataran rendah berada pada ketinggian 0-1000 m dpl. Hutan dataran rendah ini terbagi atas hutan rawa gambut, hutan air tawar, hutan di tepian sungai, hutan pada tanah ultra basis dan pada batu kapur (limestone), serta hutan musim. Jenis hutan lainnya yaitu hutan perbukitan berada pada ketinggian 1000-1500 m dpl , hutan pegunungan bawah di ketinggian 1500 – 2400 m dpl dan hutan pegunungan atas pada ketinggian. Hutan dataran rendah memiliki keragaman hayati yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis hutan lainnya. Hal ini karena banyak organisme yang dapat beradaptasi pada ketinggian tersebut.

Hutan Lambusango di Pulau Buton adalah hutan hujan dataran rendah dengan kondisi geologis yang didominiasi oleh batuan ultra basa dan kapur (limestone). Jenis tanah ini memiliki tingakt kesuburan yang rendah shingga tegakan hutan yang terbentuk juga relatif kurang padat. Cahaya matahari dapat leluasa masuk sampai ke lantai hutan membuat lantai hutan begitu banyak ditumbuhi semak dan tumbuhan bawah. Hutan Lambusango relatif miskin unsur hara dikarenakan kondisi geologisnya yang merupakan bantuan kapur. Menurut Whitten, dkk (2005) hutan di sub-kawasan sulawesi rata-rata hanya duihuni oleh 35 spesies tumbuhan dalam 0,5 Ha. Berbeda dengan pulau Kalimantan yang dihuni rata-rata sekitar 50 Spesies setiap 0,5 Ha dan di Pulau Papua sekitar 44 spesies dalam 0,5 Ha.

Di suatu wilayah Hutan Lambusango bagian barat (dekat wilayah Desa Lambusango Timur, Kecamatan Kapontori) terdapat suatu blok kawasan hutan di areal perbukitan dengan luas sekitar 500 ha yang memilik fenomena langka dan menarik. Kondisi vegetasi di kawasan hutan ini mirip seperti daerah hutan yag lazim pada ketinggian di atas 2000 mdpl, padahal blok kawasan hutan ini hanya berada pada ketinggian 300 – 370 m dpl. Wilayah perbukitan ini dikenal dengan nama “Bukit Padang Kuku”. keunikan bukit padang kuku ini karena adanya kawasan padang alang alang dan juga adanya komunitas pohon cemara dan santigi gunung.

Lokasi bukit padang kuku menghadap langsung ke Teluk Kapontori. Posisi puncaknya yang relatif tinggi (antara 350-400 mdpl) memberikan sudut pandang yang luas ke seluruh bentang lahan (land scape) di sekitarnya. dikarenakan posisinya yang menghadap lautan, maka memungkinkan anda untuk menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam di sela sela semenanjung .Kini Puncak bukit padang kuku ini sudah cukup terkenal dan favorit bagi para pegiat alam bebas sebagai lokasi tujuan treking dan camping. Pintu masuk terdekat yaitu dari desa terdekat yaitu Desa Lambusango Timur, dengan perkiraan waktu tempuh hingga sampai kepuncak sekitar 60 menit berjalan kaki.

Kawasan Padang Kuku ini didominasi oleh pohon-pohon kerdil (tinggi 1,5 – 10 m dengan diamater batang 20 – 40 cm), dengan daun kecil dan tebal. Hutan di Padang Kuku ini merupakan hutan kerdil (dwarf forest) atau disebut juga dengan hutan berawan dataran rendah. Disebut sebagai hutan berawan karena seringnya hutan tersebut diselimuti awan. Hutan berawan ini memiliki komposisi flora dan kenampakan hutan yang sangat unik seperti kondisi pohon-pohonnya yang berukuran lebih pendek, bengkok-bengkok, dan memiliki batang yang kecil dan keras. Selain itu, hutan ini juga miskin spesies. Kondisi ini mirip dengan kondisi hutan di wilayah Sub Alpine. Perbedaannya dengan hutan kerdil berawan dataran tinggi adalah pada ukuran daun vegetasinya yang relatif lebih besar dan lantai hutannya tidak berlumut.

Fenomena unik di kawasan Padang kuku ini diperkirakan karena kondisi geologisnya yang langsung terekspose (menghadap) ke wilayah lautan. Hal ini menyebabkan massa udara yang mengandung uap air yang dihasilkan oleh proses evaporasi (penguapan) dari lautan menjadi lebih besar. Massa udara beruap air tersebut naik ke lereng pegunungan. Hal inilah yang menyebabkan wilayah Padang Kuku sering diselimuti oleh kabut.

Sementara hubungan antara keberadaan kabut terhadap kekerdilan pohon masih menjadi teka-teki dikalangan para ahli. Namun pada umumnya diasumsikan karena keberadaan kabut dapat menghambat penetrasi sinar matahari. Akibatnya proses fotosintesis tumbuhan pun menjadi terhambat dan dampaknya pertumbuhan pohon menjadi kerdil, berdaun kecil, dan tebal. Pada kondisi umum, kekerdilan pohon sering berkaitan dengan tingginya elevasi hutan dari permukaan laut sehingga intensitas kabut juga semakin tinggi.

Pada pegunungan besar yang berada jauh dari tepi pantai (misalnya gunung Pangrango dan Gunung Salak di Pulau Jawa), hutan pegunungan yang sering tertutup kabut ini baru terjadi pada elevasi lebih dari 2000 mdpl. Namun pada pegunungan di suatu pulau kecil didekat pantai (seperti halnya di Padang Kuku, Gunung Rinai di Pulau Natuuna, dan Gunung Tinggi di Pulau Bawean), perubahan kenampakan dari hutan pegunungan bawah ke tinggi sering terjadi pada elevasi kurang dari 500 mdpl.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *