Teluk Kapontori dan Problem Penurunan Produktifitasnya

Teluk dapat didefinisikan sebagai wilayah perairan yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya. Oleh karena letaknya yang strategis, dan kondisi perairan yang cenderung tenang, maka wilayah teluk banyak dimanfaatkan sebagai wilayah pelabuhan dan kegiatan budidaya perikanan. Di wilayah Kabupaten Buton yang merupakan wilayah Kepulauan, terdapat wilayah perairan teluk, yang dikenal dengan nama Teluk kapontori. Berdasarkan pengukuran dengan peta citra satelit Google earth, Wilayah teluk Kapontori memiliki luasan sekitar 6000 ha.

Peta Teluk Kapontori

Wilayah Teluk Kapontori mencakup beberapa Desa pesisir di Kecamatan Kapontori diantaranya Desa Boneatiro, Desa Boneatio Barat, Desa Wakalambe, Desa Lambusango, Desa Lambusango Timur, dan Kelurahan Watumotobe Desa Tumada, dan Desa Todanga. Berdasarkan data BPS tahun 2021, jumlah masyarakat Kecamatan Kapontori yaitu sebanyak 15.371 Jiwa. Aktifitas mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir Teluk Kapontori banyak yang bergantung dari hasil laut seperti kegiatan nelayan tangkap. Jenis tangkapan ikan diantaranya ikan-ikan karang, ikan layang, kembung, tongkol, cumi-cumi, kerapu, rajungan, kepiting, udang, dll. Serta kegiatan budidaya seperti kerang laut (mabe), kerang mutiara, keramba apung, dan rumput laut.


Teluk Kapontori Kabupaten Buton, pernah terkenal sejak lama sebagai wilayah sentra budidaya rumput laut, kerang mabe, dan mutiara yang cukup berkembang di Kabupaten Buton. Data hasil penelitian yang termuat pada beberapa jurnal penelitian juga mendukung fakta tersebut. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Adang saputra dan Bambang priono pada tahun 2006 yang termual dalam Jurnal Media Akuakultur, mengenai potensi pengembangan budidaya Keramba Jaring Apung di Teluk Kapontori, serta penelitian MS Hamzah pada tahun 2014 yang termuat dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, mengenai kehidupan Kerang Mutiara (Pinctada maxima) di Teluk Kapontori. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan faktor geografis dan kondisi perairan di Teluk Kapontori yang cukup layak untuk aktifitas budidaya.

Ketua yayasan tarsius Celebes Indonesia, Taufik Dani, mengungkapkan “Teluk Kapontori memang mempunyai potensi untuk perikanan tangkap dan budidaya yang cukup baik. Namun demikian sejak satu dekade terakhir ini, tidak sedikit nelayan dan pembudidaya di Teluk Kapontori yang mulai mengeluhkan adanya penurunan yang signifikan pada hasil tangkapan ikan begitupula penurunan hasil budidaya rumput laut, mabe ataupun mutiara.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Buton Dalam Angka Tahun 2022, produksi perikanan tangkap di Kecamatan Kapontori hanya sebesar 1829 ton/tahun. Angka ini sangat jauh perbedaannya jika dibandingkan dengan produktifitas di perikanan tangkap di Kecamatan Pasarwajo pada tahun yang sama (2022) yang mencapai 9286 ton per tahun dan juga kecamatan siontapina yang mencapai 5173 ton/tahun. Padahal dari data statistik diketahui hingga tahun 2013 produktifitas perikanan tangkap di Kecamatan Kapontori sempat mencapai 10.935 ton/tahun. Penurunan produktifitas mulai signifikan terjadi sejak tahun 2014 dimana angka produktifitasnya hanya 3739 ton/tahun dan semakin menurun lagi pada tahun selanjutnya.

Data Produktifitas Perikanan Tangkap di Kecamatan Kapontori dari tahun ke tahun – Sumber : BPS Kab. Buton Dalam Angka

Taufik Dani melanjutkan “Penurunan angka produktifitas perikanan tangkap di laut Kapontori dapat dipengaruhi beberapa faktor eksternal seperti maraknya aktifitas penangkapan ikan dengan bom dan racun, pencemaran laut oleh limbah, sampah plastik, pengerukan pasir, dan penebangan hutan mangrove. Selain itu, kondisi global warming yang berefek pada perubahan musim serta kenaikan suhu air laut juga bisa menjadi faktor penyebab penurunan produktifitas. Namun demikian permasalahan tersebut adalah problem umum yang sebenarnya juga dialami daerah lainnya di pesisir Kabupaten Buton. Sehingga fenomena penurunan produktifitas yang sangat signifikan di perairan Kapontori pada rentang tahun 2014 hingga saat ini, cukup menarik untuk dikaji lebih dalam”.

Permasalahan penurunan produktifitas laut di teluk Kapontori juga sering dihubungkan dengan dampak dari aktifitas pertambangan nikel yang sempat beroperasi di Desa Lambusango pada periode tahun 2010 hingga 2014. Pada periode tersebut, masyarakat yang tinggal disekitar teluk Kapontori banyak yang mengeluhkan air sungai yang kotor dan pesisir yang menjadi coklat keruh karena banyaknya material tanah yang terbawa aliran sungai terutama saat kondisi hujan. Masyarakat meyakini, material tanah tersebut bersumber dari lokasi lahan pertambangan terbuka di area perbukitan di Desa Lambusango. Saat hujan datang, air hujan mengikis lapisan tanah dan membawa material ke aliran sungai hingga bermuara di teluk Kapontori.

Material tanah dari limpasan galian tambang banyak mengandung unsur logam yang membuat air menjadi keruh, menghalang masuknya sinar matahari dan mengendap ke dasar perairan sehingga mengganggu kehidupan terumbu karang dan padang lamun. Jika terumbu karang rusak maka ekosistem laut akan terpengaruh, karena fungsi terumbu karang adalah sebagai tempat berlindung dan mencari makan ikan-ikan.

Saat ini (tahun 2023), kegiatan pertambangan Nikel di Desa Lambusango tersebut mulai diaktifkan kembali, Jika tidak ada upaya pengelolaan lingkungan yang baik sesuai yang tertuang dalam dokumen AMDALnya maka tentunya aktifitas tersebut bisa memberikan dampak pencemaran pada sungai dan Teluk Kapontori”.

Citra Satelit Lahan Bekas Tambang Nikel di Desa Lambusango, Kecamatan kapontori, Buton

Permasalahan penurunan produktifitas laut yang dialami nelayan di teluk Kapontori tak sedikit membuat sebagian mereka (nelayan) harus meninggalkan profesinya dan beralih ke aktifitas bertani, berkebun, buruh bangunan, atau merantau mencari pekerjaan diluar daerah untuk menopang perekonomian keluarga.

Untuk mengembalikan produktifitas perikanan di teluk Kapontori memang bukanlah perkara yang mudah karena jika keseimbangan ekosistem rusak/terganggu maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali pada kondisi semula. Seperti contoh terumbu karang yang rusak membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat tumbuh kembali menjadi rumah yang nyaman bagi ikan. Apalagi secara kondisi geografis perairan Teluk kapontori cenderung membentuk area teluk tertutup sehingga proses asimilasi dan purifikasi alami perairan berlangsung lebih lambat. Dengan demikian jika terjadi pencemaran, maka dampaknya sangat besar mempengaruhi kualitas air laut.

Usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan di teluk Kapontori adalah dengan ; menghentikan aktifitas/sumber pencemaran yang potensial, menjaga agar penangkapan ikan dilakukan secara ramah lingkungan (tidak mengebom dan meracun), menjaga kelestarian hutan bakau dengan tidak menebang kayunya, tidak membuang sampah di sungai dan di muara terutama sampah plastik, kaleng, kain dan sampah yang tidak terurai lainnya, serta menjalankan proses edukasi yang baik kepada masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Teluk Kapontori, sehingga tercipta kesadaran bersama untuk menjaga pesisir tetap lestari. Upaya pengawasan yang ketat serta penegakan hukum bagi pelaku yang terbukti melakukan perusakan atau pencemaran juga harus dilaksanakan secara tegas oleh instansi yang berwenang. Hal ini tentunya membutuhkan kerjasama dan dukungan yang kuat dari instansi pemerintah, aparat penegak hukum, serta masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *